Rabu, 29 Agustus 2012

Pendidikan Sebagai Panglima


Pendidikan sebagai Panglima
SETELAH Perang Dunia II berakhir,hampir semua negara melakukan konsolidasi politik dan ekonomi.
Bagi Indonesia yang masyarakatnya sedemikian majemuk dan penduduknya tersebar di berbagai pulau,sungguh konsolidasi adalah tugas yang amat berat dan sangat monumental dalam perjalanan bangsa ini. Bung Karno dan pendiri bangsa lainnya pantas sekali mendapatkan penghargaan dari kita semua yang telah bersusah-payah dan berhasil mengantarkan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengingat urgensi agenda konsolidasi politik, maka muncul istilah ”politik sebagai panglima” pada era Bung Karno yang juga populer dengan sebutan Orde Lama.
Mari merenung sejenak,mengamati rahasia yang menjadi sumber kebangkitan dan kekuatan dari sebuah bangsa dan negara. Salah satu kata kuncinya adalah pendidikan. Kita mulai dari yang paling klasik, yaitu Yunani. Siapa pun yang belajar pemikiran filsafat dan politik, mesti mulai dari warisan intelektual Plato dan Aristoteles 2.500 tahun lalu. Seakan dua nama itu masih hidup dan dikenal dunia, sementara kondisi bangsa dan masyarakat Yunani saat ini bagaimana,kita tidak begitu akrab.
Di sinilah bedanya. Mesir purba yang memiliki peradaban unggul seperti Yunani, namun karena tidak terabadikan dalam bentuk tulisan dan diwariskan dalam sistem pendidikan, maka yang tersisa hari ini adalah bangunan fisik berupa candi piramida dan Spink. Yang paling spektakuler tentu saja kebangkitan yang muncul dari pasir Arabia dengan kehadiran sosok Muhammad yang mengenalkan Alquran, sumber ilmu pengetahuan dan peradaban, sehingga dalam kurun waktu yang amat singkat wilayah padang pasir itu berubah menjadi pusat peradaban.
Neo-Nasionalisme
Kondisi sekian banyak negara yang menyatakan merdeka setelah Perang Dunia II ternyata berbeda-beda.Ada yang cepat, ada yang sedang, ada pula yang lambat melakukan konsolidasi dan modernisasi.
Negara-negara pascakolonial ini masih sulit menghilangkan luka akibat perang dan penjajahan.Terlebih Indonesia yang masyarakatnya sangat majemuk dan penduduknya tersebar di ribuan pulau.Sungguh merupakan tugas sejarah yang tidak ringan membangun pemerintahan yang efektif dan penguatan nasionalisme. Sampai hari ini kita mesti bersyukur tidak terjadi Balkanisasi di negeri ini. Menyusul setelah konsolidasi politik adalah orde pembangunan ekonomi sebagai panglima di bawah Presiden Soeharto. Ini merupakan pilihan dan keharusan sebagaimana juga yang dilakukan bangsa dan negara lain di dunia.
Nasionalisme yang didorong oleh semangat fight against (penjajah) pelan-pelan diganti oleh semangat fight foryang berorientasi pada prestasi pembangunan ekonomi. Generasi yang lahir pada 1970-an tentu tidak merasakan secara langsung bagaimana bobroknya kondisi ekonomi yang ditinggalkan rezim Orde Lama yang sarat dengan retorika politik antiimperialisme sehingga Bung Karno bisa disebut sebagai nation and state te buil Berbeda dari Bung Karno, Pak Harto tampil membangun ekonomi sehingga dia sering dijuluki sebagai market builder.
Namun sangat disayangkan, gerak maju pembangunan bangsa ini harus mundur lagi karena kesalahan manajemen politik dan muncullah era reformasi dalam suasana kemarahan dan kekecewaan karena Orde Baru gagal mengelola sukses (the failure of success) akibat korupsi kronis yang justru dipelihara dan disebarkan dari tubuh birokrasi dan elite penguasa. Kini,kita masih harus berjuang keras mengulangi agenda lama,yaitu konsolidasi politik dan membangun ekonomi, sementara beberapa negara lain sudah lebih maju lagi memasuki tahapan pembangunan pendidikan dan budaya.
Ibarat mobil,kita terpaksa mundur untuk maju, namun mundurnya jangan terlalu jauh. Hanya dengan pendidikan yang bagus,kompetitif, dan meratalah sebuah bangsa akan bisa tampil dengan kepala tegak dalam persaingan dunia. Tidak sulit membuktikan kebenaran teori ini.
Lihat saja benua Australia yang dulu dipandang sebelah mata sebagai gurun pasir tempat pelarian orang kulit putih kelas kambing, kini kemajuannya sangat mengesankan berkat lembaga pendidikan yang bagus, sebuah pendidikan dalam arti yang lebih luas,bukan sekadar memperoleh titel kesarjanaan, tetapi untuk mendorong munculnya kebudayaan dan peradaban unggul yang dikembangkan oleh warganya. Begitu pun China, India, Malaysia, dan Singapura yang sekarang ini tampil sebagai pemain baru yang diperhitungkan dalam percaturan global.
Kesemuanya itu bermula dari pembangunan politik, ekonomi, kemudian dilanjutkan dengan memosisikan program pendidikan sebagai prioritas utama. Singapura yang semula dikenal hanya sebagai kota belanja dan transit, kini sangat agresif membenahi diri untuk menjadikan pendidikan sebagai identitas diri dan sumber devisa. Meminjam ungkapan teman, Pemerintah Singapura mengisi otak dan hati rakyatnya setelah diberi rasa aman dan perutnya dikenyangkan lebih dahulu.
Paruh kedua pemerintahan Pak Harto sesungguhnya rasa aman dan perut kenyang sudah diraih. Namun ada aspek lain yang dilupakan,yaitu mengelola hasil pembangunan bidang pendidikan. Tuntutan kelas menengah dan lapisan terpelajar tentu tidak cukup hanya terpenuhinya kebutuhan sandang dan pangan. Mereka mulai menuntut ruang kebebasan untuk berpendapat dan berbeda.
Tuntutan inilah yang kurang direspons segera oleh Pak Harto sehingga berujung menjadi air bah yang menghantam dirinya.Jadi, sesungguhnya Pak Harto telah berhasil memakmurkan dan memintarkan rakyatnya sendiri, namun lupa atau enggan membuka keran demokrasi sehingga hasil jerih payahnya selama jadi presiden buyar berantakan. Dia gagal mengelola sebuah keberhasilan. Mungkin kesalahannya tidak fair dilemparkan kepada Pak Harto sendiri. Andil kroni-kroninya sangat besar dalam proses pembusukan rezim Orde Baru.
Negara-negara tetangga di Asia Tenggara mestinya memperoleh pelajaran yang amat berharga dari perjalanan Indonesia. Kalau pemerintah dinilai korup,sementara keran demokratisasi tidak dibuka, maka rakyat yang sudah kenyang dan pintar itu pasti akan bergolak menghantam pemerintah sendiri. Jadi, agenda ke depan ini Indonesia mesti membangun neonasionalisme, sebuah kecintaan dan kebanggaan menjadi warga Indonesia karena prestasi pendidikan dan peradabannya.
Bunyi undang undang yang menetapkan anggaran pendidikan sebesar 20% sudah tepat. Kita sebagai orangtua sangat siap kerja keras dan hidup prihatin demi mengantarkan anak-anak kita memperoleh pendidikan yang bagus demi masa depan mereka. Bisakah semangat dan kesiapan prihatin demi anak ini ditransfer menjadi sikap pemerintah dan bangsa secara kolektif? (*)
*)Penulis : Rektor UIN Syarif Hidayatullah
Sumber : Koran Sindo
http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2008/03/07/pendidikan-sebagai-panglima/

GURU DAN PENDIDIKAN NASIONAL


Oleh : Irwan Safari, S. Pd
Guru SMP N 10 Bengkalis)
Masa depan bangsa Indonesia sepenuhnya ada pada kreativitas dan kecakapan guru dalam menghadapi berbagai probelamatika pendidikan (Editorial Tabloid Klub Guru Indonesia, Edisi 3 Desember 2009). Saat ini bangsa ini dihadapkan pada situasi pendidikan yang cendrung tidak menghasilkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dapat diandalkan, yang diakibatkan oleh banyak faktor yang kompleks; sistem pendidikan, kurikulum, fasilitas, psiko-sosial anak didik, terlebih lagi kompetensi guru. Sebagaimana Fuad hasan dalam Ahmad Rizal, dkk (2009) mengatakan bahwa jangan terlalu meributkan masalah kurikulum, sarana, dana, serta sistem sebab itu semua belum berarti apa-apa tanpa terlebih dahulu memperhatikan pelaku-pelaku pendidikan (guru).
Sehingga jika kita berbicara tentang pendidikan, rasanya belum sempurna kalau kita belum berbicara tentang guru. Sebab dalam kondisi bagaimanapun guru tetap memegang peran penting dalam perkembangan pendidikan. Demikian halnya dalam kemajuan IPTEK dan perkembangan global, eksistensi guru sangat penting kiprahnya karena peran guru tidak seluruhnya dapat digantikan oleh teknologi. Canggihnya teknologi komputer saat ini masih belum mampu menggantikan keberadaan guru, sebab komputer tidak dapat diteladani bahkan bisa menyesatkan jika penggunaanya dilakukan tanpa kontrol. Fungsi kontrol ini pulalah yang memposisikan figur guru sebagai sosok yang penting dalam kemajuan pendidikan.
Oleh sebab itu kita mesti memberikan kriteria tentang figur guru, sebab dalam kenyataan yang kita lihat bahwa tidak semua sosok guru itu penting. Masih banyak guru yang menyesatkan perkembangan dan masa depan generasi bangsa ini. Melalui berbagai media kita masih menyaksikan ada guru yang mencabuli anak didiknya, mempersulit atau bahkan menghambat perkembangan peserta didik, pilih kasih, dendam terhadap muridnya, dan masih banyak lagi kasus lain baik yang sudah terekspos ataupun yang belum. Penting atau tidaknya seorang guru tergantung kepada guru itu sendiri, tidak saja berkenaan dengan pembelajaran di kelas tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Sedikitnya ada tiga kata yang menjadi sifat dan karakteristik guru; yakni kreatif, profesional, dan menyenangkan ( Mulyasa, 2008).
Seorang guru harus kreatif dalam memilih dan memilah, serta mengembangkan materi pembelajaran sehingga dapat menyentuh kebutuhan peserta didik. Sebagaimana kita ketahui bahwa saat ini guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber informasi bagi peserta didik, akan tetapi guru hanyalah salah satu sumber saja. Hal inilah yang mesti dicermati oleh seorang guru dengan mengasah kreativitasnya sehingga dapat memposisikan diri dalam membantu perkembangan peserta didiknya.
Kemudian dalam menjalani profesinya sebagai guru (UU RI No. 20 Tahun 2003), dituntut untuk bekerja dan berbuat secara profesional. Kompetensi sebagai guru menjadi harga mati, tanggung jawab, sense of belonging terhadap profesinya dapat menjadi tolak ukur terhadap perannya dalam mempersiapkan generasi bangsa ini. Disamping itu seorang guru juga harus menyenangkan, tidak hanya bagi peserta didik namun juga menyenangkan bagi dirinya sendiri. Artinya bahwa belajar dan pembelajaran harus mendarah daging pada sosok dan kepribadian guru, mampu menerobos karakteristik dan gaya belajar peserta didiknya merupakan sesuatu yang akan membentuk sosok guru yang menyenangkan agar dapat membangun dan merangsang kecintaan peserta didik terhadap belajar. Tiga hal ini sejalan dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam upaya mendongkrak kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan memposisikan dirinya sebagai; (1) orang tua yang penuh kasih sayang, (2) teman tempat mengadu, fasilitator, pemberi sumbangan pikiran, pembangun kreativitas, dan menjadi pembantu ketika diperlukan.
Konsepsi tuntutan tersebut berhubungan langsung dengan etos kerja dan etos belajar guru. Pembentukan kepribadian dan perbaikan kulitas peserta didik tidak akan mungkin terjadi apabila gurunya tidak memiliki etos kerja yang baik serta menyadari akan perlunya belajar sepanjang hayat. Berkaitan dengan hal tersebut sesuai dengan kajian Pullias dan Young (1988), Manan (1990), serta Yelon dan Weinstein (1997) dalam E. Mulyasa (2008) dapat diidentifikasi sedikitnya ada 19 peran guru; a). Guru Sebagai Pendidik, sebagai seorang pendidik guru harus memiliki standar kualitas pribadi yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. b). Guru Sebagai pengajar, saat ini guru harus menyadari bahwa perkembangan teknologi mengubah perannya sebagai pengajar yang menyampaikan materi pelajaran menjadi fasilitator yang memberi kemudahan dalam belajar. c). Guru sebagai pembimbing, berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya guru harus mampu membimbing dan bertanggung jawab atas perjalanan dan perkembangan peserta didik.
d). Guru sebagai pelatih, guru harus mampu menjadi pelatih sebab pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan dan keterampilan baik intelektual maupun motorik. e). Guru sebagai penasehat, dalam upaya ini guru dituntut untuk menguasai konsep dan memahami tentang perkembangan psikologi dan perkembangan mental peserta didik. f). Guru sebagai pembaharu, gurulah yang berperan dalam menerjemahkan pengalaman masa lalu menjadi sesuatu yang berharga dalam kehidupan peserta didik. g). Guru sebagai model dan teladan, peran ini menuntut guru memiliki pribadi yang mengandung sikap dasar yang baik, bicara dan gaya bicara, kebiasaan bekerja, penampilan, hubungan kemanusiaan, pola pikir, kesehatan, serta gaya hidup secara umum yang dapat menumbuhkan kepercayaan peserta didik.
h). Guru sebagai pribadi, guru harus menjadi pribadi yang memiliki emosi yang stabil dan mampu berbaur ditengah masyarakat. i). Guru sebagai peneliti, sebagai seorang guru perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan lingkungannya dengan tidak pernah berhenti menemukan kebenaran melalui penelitian. j). Guru sebagai pendorong kreativitas, guru harus mampu menjadi pemancing kreativitas siswa dengan mendemonstrasikan proses kreativitas itu sendiri. k). Guru sebagai pembangkit pandangan, guru harus mampu menanamkan pandangan yang positif kepada peserta didik terhadap martabat manusia. l). Guru sebagai pekerja rutin, guru bekerja dengan keterampilan dan kebiasaan tertentu yang merupakan bagian dari proses pembentukan, diperlukan keuletan dan kesabaran. m). Guru sebagai pemindah kemah, guru harus mampu membawa peserta didik kepada suatu keadaan yang baru dengan belajar tentang hal-hal yang terbaru. n). Guru sebagai pembawa cerita, guru harus mampu menggunakan pengalaman dan gagasan peserta didik dengan menginterpretasikan kejadian sekarang dan akan datang melalui ceritanya. o). Guru sebagai aktor, untuk menyampaikan pesan yang bermakna kepada peserta didik, guru harus mampu menjadi aktor yang handal dalam proses pembelajaran. p). Guru sebagai emansipator, guru mesti menyadari bahwa pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman peserta didik akan membebaskan mereka dari “self image” yang tidak menyenangkan. q). Guru sebagai evaluator, keterampilan, pengetahuan serta sikap yang memadai perlu dimilki oleh guru dalam melakukan penilaian yang kompleks.
r). Guru sebagai pengawet, peran ini perlu dilakukan guru sebab salah satu tugas utama pendidikan adalah mewariskan kebudayaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. s). Guru sebagai kulminator, guru adalah orang yang harus mampu mangarahkan proses belajar dari tahap awal sampai pada tahap akhir (kulminasi). Semua peran ini dapat dikerjakan oleh guru dengan menyadari akan peran pentingnya dalam kemajuan bangsa ini dimasa yang akan datang melalui pendidikan.
——————
(Catatan; E. Mulyasa, 2008. Menjadi guru profesional. Bandung. Rosda karya. Tabloid Klub Guru Indonseia, 2009. Edisi 03 Tahun 2009. www. KlubguruIndonesia.com)
http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2010/01/30/guru-dan-pendidikan-nasional/